PILIHAN TERBAIK
Assalamulaikum,
namaku Tsania Ghany Dahlan. Seorang mahasiswi dari salah satu kampus pendidikan
di DKI Jakarta yaitu kampus tercinta “Universitas Negeri Jakarta”. Sebelumnya,
aku tidak pernah berpikir untuk melanjutkan kuliah di dunia pendidikan loh,
rasanya seperti tidak pantas dengan karakterku yang pemalu heuheuhe. Mau tau
sekarang kenapa aku jadi nyaman menjadi seorang guru? Okelah, aku ingin berbagi cerita bagaimana
aku mencapai titik sekarang ini dan semoga dapat diambil sisi positifnya.
Aku
dilahirkan di keluarga yang sederhana. Ibuku seorang single parent sejak tahun 2001 dan memiliki dua penyemangat
hidupnya, aku dan abang. Bapakku meninggal karena penyakit jantung, di saat aku
berusia 1 tahun dan abangku berusia 9 tahun. Sebab itu, ibuku berhenti menjadi guru agar dapat merawat kami dan
memilih untuk meniti usaha di rumah dengan mendirikan warung sembako.
Ibuku
selalu menanamkan betapa pentingnya arti pendidikan, bahkan ibu selalu berusaha
mencari jalan agar kami maksimal dalam menempuh pendidikan. Seiring waktu,
perjuangan ibuku membuahkan hasil. Alhamdulillah, abangku ke terima di STAN.
Lalu, sebelum aku keterima di UNJ, itu pun banyak pertimbangan dan duka. Aku
kuliah dengan dua pilihan yaitu harus
PTN atau gap year dan kuliah pun
harus di Jakarta. Perjalanan menggapai PTN pun tidak mudah karena kenyataannya
aku tidak lolos saat SNMPTN, ujian PKN
STAN, dan SBMPTN. Aku pun tidak patah semangat dan memanfaaatkan kesempatan yang tersisa yaitu ujian gelombang
kedua di Politeknik AKA Bogor dan ujian mandiri PENMABA UNJ. Alhamdulillah puji
syukur, Allah Maha Baik yang telah mempermudah, aku lolos keduanya dan lebih
memilih kuliah Pendidikan Kimia di UNJ. Sejujurnya aku lebih suka kuliah di
Politeknik AKA Bogor. Tetapi melihat kondisi ibu yang sendirian di rumah, ibu yang
sakit, dan kalaupun aku kuliah di Politeknik AKA Bogor, maka ibu akan memenuhi
kebutuhan perkuliahan seperti living cost
yang mahal untuk tinggal di Bogor. Sebab itu, aku merasa tidak tega dan lebih memilih melepaskan mimpiku kuliah di
Politeknik AKA Bogor, ya walaupun sedih tapi aku tidak boleh egois karena ada ibu
yang seharusnya aku rawat.
Dari sini lah aku
mendapatkan pengalaman bahwa aku harus
membangun prinsip setiap masalah akan selesai, maka kita jangan menyerah dan
tetap percaya diri. Kesuksesan akan hilang makna jika tidak diimbangi dengan
rasa kesedihan. Maka selalu yakin bahwa suksesmu akan menanti. Manusia hanya
berusaha dan berdoa, tentang hasil akhirnya tentu di tangan Tuhan. Segera
berubah dan belajar untuk disiplin, maka hidup akan terus maju karena pola
hidup yang benar.
Yapp, aku adalah
seorang mahasiswi di jurusan Pendidikan Kimia di Universitas Negeri
Jakarta. Kembali ke pertanyaan awal: mengapa yang awalnya tidak bercita-cita
menjadi guru, pada akhirnya sekarang bisa nyaman dan ingin menjadi seorang
guru? Mayoritas profesi di
keluargaku adalah seorang guru, jadi banyak sekali hal yang dapat aku teladani
dan aku pun mendapatkan dukungan dari saudara-saudaraku, nasihat mereka merupakan
sumber penguat dikala aku merasa jenuh selama perkuliahan. Saat aku masih SMA,
aku pun gemar sekali pelajaran kimia dan aku merasakan kimia itu menyenangkan.
Oleh karena itu, aku mengambil Prodi Pendidikan Kimia. Alasan
lain kenapa aku nyaman menjadi guru karena selama perkuliahan, aku dipertemukan
dengan teman-teman yang luar biasa dan amat baik, dosennya pun berkompeten, dan
lingkungan Fakultas MIPA yang sangat positif itu adalah kunci kenyamanan
perkuliahanku. Tidak sadar selama perkuliahan kita
dibentuk untuk menjadi guru yang ideal dan mental mengajar pun mulai muncul.
Mungkin
pernah mendengar ungkapan 'witing tresno jalaran
soko kulino' merupakan sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa, yang kalau
diartikan dalam Bahasa Indonesia artinya "Cinta tumbuh karena
terbiasa". Memang kalau dipahami maksudnya, akan bisa dimengerti bahwa
cinta itu akan bisa tumbuh karena terbiasa. Awalnya yang setengah hati
berkuliah di jurusan pendidikan. Setelah
terjun dan berkecimpung di dunia pendidikan, aku jatuh cinta! Menjadi guru
bukan hanya sebuah profesi, tetapi juga panggilan hati. Panggilan hati untuk
menciptakan manusia yang berhasil dan sukses di setiap bidangnya. Panggilan
hati untuk membentuk moral manusia agar lebih beradab. Panggilan hati untuak
bekerja dengan ikhlas dan profesional walaupun dengan segala keterbatasan
fasilitas dan finansial. Dengan kata lain, guru adalah pekerjaan mulia yang
dapat “menciptakan” seribu macam profesi manusia di masa depan.
Karena aku
seorang muslim, menjadi seorang guru sama dengan dakwah, sedekah ilmu
bermanfaat yang pahala amal jariahnya tidak putus meski aku sudah meninggal nanti. Jadi, alasan terbaik
untuk menjadi seorang guru adalah karena banyak bonus pahalanya J
Sekian dulu yaa dan semoga bermanfaat tulisan ini
Waalaikumsalam, warahmatullahi, wabarakatuh….
Komentar
Posting Komentar