LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II
REAKSI ASAM BASA


Nama                             : Tsania Ghany Dahlan
NRM                              : 1303618059
Kelompok                      : 9
Dosen Pembimbing        :         Ella Fitriani, M.Pd
Asisten Laboratorium    :         1. Chintya Desty Octavia (3315151882)
                                                2. Nurmayanti Chodijah (3315153513)
                                                3. Rosita (3315150083)

LaporanAwal
LaporanAkhir
Tanggal
Nilai
Tanggal
Nilai

20 Juni 2019


29 Juni 2019




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA B 2018
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
PERCOBAAN I
REAKSI ASAM DAN BASA

A.    TUJUAN
1.      Menentukan trayek pH berbagai asam basa dan indikator yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan.
2.      Menentukan pH larutan dengan berbagai indikator asam basa dan indikator yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan.
3.      Menentukan konsentrasi larutan asam cuka dengan menggunakan larutan standar natrium hidroksida.
4.      Memahami pengenceran asam cuka.
5.      Menghitung konsentrasi asam cuka setelah proses titrasi.

B.     PRINSIP
Di dalam kehidupan sehari-hari banyak dijumai senyawa asam dan basa. Asam memiliki sifat korosif, bersifat masam, terionisasi menghasilkan H+, memiliki pH<7, dan dapat memerahkan lakmus biru. Sedangkan, basa memiliki sifat diantaranya terasa pahit, bersifat kaustik, terionisasi menghasilkan ion OH-- , memiliki pH>7, dan dapat membirukan kertas lakmus.
Dalam perkembangannya Arrhenius mengemukakan suatu teori yang menyatakan bahwa asam adalah zat yang mengandung hidrogen dan dilarutkan ke air akan terurai menjadi ion hydrogen. Sedangkan dalam basa adalah senyawa hidroksida yang didalam air terurai menjadi ion hidroksidan dan ion logam. Dengan teori  ini kita dapat mengukur derajat disosiasi yang menjelaskan keasaman atau kebasaan suatu  zat.
Lalu, Bronsted dan Lowry mengemukakan konsep tentang asam dan basa , yaitu asam adalah donor proton dan basa adalah akseptor proton. Jika suatu asam kehilangan proton, maka yang tinggal adalah suatu basa yang disebut basa konjugasi dari asam semula. Proton (H+) tidak merupaka ion sendiri dalam air, tetapi beraksi dengan molukel air membuat ion hidrinium.
G.N.Lewis (1923) mengajuka empat kriteria untuk asam dan basa, yaitu:
·         Reaksi asam dan basa adlah reaksi yang cepat
·         Ada kuat dan basa dapat mengganti asam yang lebih lemah atau yang lebih lemah dari senyawa
·         Indicator dapat digunakan untuk menentukann titik ekuivalen reaksi asam dan basa
·         Asam dan basa merupakan katalis yang penting

Percobaan ini bertujuan untuk menentukan trayek pH dengan berbagai indikator asam basa . kemudian indicator asam basa dan indicator pada tumbuh-tumbuhan tadi digunakan untuk menentukan pH dari larutan yang telah disediakan. Dari percobaan selanjutnya, bertujuan untuk menentukan konsentrasi larutan asam cuka dengan menggunakan larutan standar natrium hidroksida. Dari percobaan titrasi ini dapat diketahui warna akhir titrasi, menghitung volume NaOH yang dibutuhkan, serta menghitung konsentrasi dari luratan cuka sebelum diencerkan.

Parktikum ini terdiri dari tiga judul yang akan dipraktikkan, yaitu:

1.      Penentuan Trayek pH Indikator Asam Basa
Untuk mengenali suatu zat bersifat asam atau basa, tidak boleh sembarangan dengan mencicipi atau memegangnya karena sangat berbahaya. Jadi, diperlukan sesuatu yang dapat mengenali zat besifat asam atau basa, indikator asam dan basa adalah zat yang dapat berbeda warna pada kondisi asam atau basa.
            Praktikum ini bertujuan uuntuk menentukan trayek pH berbagai indikator asam basa dan indikator tumbuh-tumbuhan yang telah disiapkan, seperti indikator MO, MM, BTB, PP, dan ekstrak tumbuh-tumbuhan. Metode yang digunakan pada percobaan ini adalah metode pengujian indikator dengan meneteskan masing-masing indikator ke dalam tabung reaksi pH 1-12, kemudian melakukan pengamatan terhadpa perubahan warna yang terjadi, lalu ditentukan trayek pH pada masing-masing indikatornya.
Dalam praktikum ini dibutuhkan 12 tabung reaksi yang sudah diberi nomer 1-12 dengan tujuan agar tidak tertukar. Kemudin di dalam tabung reaksi tersebut ditambahkan 2 tetes MO dengan tujuan agar perubahan warnanya dapat diamati dan trayek dari indikator tersebut dapat ditentukan. Selanjutnya, semua tabung dicuci dan dikeringkan agar indikator berikutnya dapat diamati trayek pH nya dengan meminimalisir kesalahan. Langkah tersebut diulangi sampai semua indikator asam basa diteteskan da berhasil ditentukan trayek pH-nya. Pada praktikum ini juga menggunakan indikator alami berupa ekstrak kembang sepatu, kol merah, dan kunyit.

2.      Penentuan pH Larutan
Percobaan ini bertujuan untuk mnentukan pH dengan menggunakan indikator asam basa dan indikator yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan. Percobaan dilakukan dengan mengisi tabung dengan 1 ml larutan yang akan diuji yaitu larutan HCl 0,1 M, larutan H2SO4 0,1 M,  Al2(SO4)3 0,1 M, NaCl 0,1 M, Ca(OH)2 0,1 M, NH4OH 0,1 M, Na2CO3 0,1 M, vinegar (sari buah jeruk). Kemudian larutan diujikan berbagai indikator dan mencatat perubahan warnanya dan menentukan pH larutan.
Hasil yang diharapkan adalah larutan HCl, H2SO4, Al2(SO4)3, dan vinegar akan mengahsilkan pH<7 karena larutan tersebut adlaha senyawa asam. Larutan NaCl akan bersifat netral dengan pH=7. Kemudian larutan Ca(OH)2, , NH4OH, Na2CO3, akan menghasilkan  pH>8 karena larutan tersebut bersifat basa.

3.      Titrasi Asam Basa
Percobaan ke 3 ini bertujuan untuk memnentukan konsentrasi larutan asam cuka dengan menggunakan larutan standar natium hidroksida dengan memperhatikan warna akhir titrasi. Selain itu, dapat menghitung volume NaOH yang dibutuhkan dan dapat menghitung konsentrasi asam cuka sebelum diencerkan.
Metode yang digunakan adalah metode titrasi. Titrasi asam-basa merupakan contoh analisis volumetrik, yaitu suatu metode menggunakan larutan yang disebut titran dan dilepaskan dari buret. Bila larutan yang diuji bersifat basa, maka titran harus bersifat asam dan sebaiknya (Sastrohamidjojo, 2005) (dalam Technamuti, 2008).
Larutan cuka diencerkan didalam labu ukur 100 ml. Kemudian, sebanyak 25 ml larutan cuka yang udah diencerkan tadi dimasukkan ke dalam erlenmenyer dengan menggunakan pipet gondok dan ditambahkan 3 tetes indikator PP dengan tujuan agar perubahan warna pada larutan cuka dapat diamati sehingga kita bisa tahu kapan tercapainya titik ekuivalen. Warna akhir titrasi dapat dilihat, volume NaOH yang dibutuhkan pun dapat kita hitung (setelah melakukan percobaan selama 3 kali, kemudian dirata-ratakan). Stelah itu kita dapat menghitung konsentrasi larutan asam cuka.
Warna akhir titrasi yang didapat kemungkinan antara pink/ungu seulas dan konsentrasi asam cuka dapat dihitung dengan persamaan: V1 . M1 = V2 . M2
Persamaan reaksinya adalah: CH3COOH (aq) + NaOH (aq)                    CH3COONa (aq) + H20      

C.    ALAT DAN BAHAN
1.      Penentuan Trayek pH Indikator Asam Basa
a.       Alat
·         Tabung reaksi 12 buah
·         Rak tabung reaksi 1 buah
·         Gelas kimia 100 mL 3 buah
·         Gelas ukur 10 mL 1 buah
·         Pipet tetes 13 buah
·         Lumpang dan alu 1 buah

b.      Bahan
·         Larutan pH dari pH 1-12 @ 7 mL
·         Indikator Metil Jingga (MO) 2 tetes
·         Indikator Metil Merah (MM) 2 tetes
·         Indikator Phenolphthalein (PP) 2 tetes
·         Indikator Bromtimol Biru (BTB) 2 tetes
·         Alcohol /aseton
·         Kembang sepatu
·         Kol merah
·         Kunir
·         Kertas saring/kapas

2.      Penentuan pH larutan
a.       Alat
·         Tabung reaksi 12 buah
·         Rak tabung 1 buah
·         Pipet tetes 10 buah

b.      Bahan
·         Larutan HCl 0,1 M 1 mL
·         Larutan H2SO4 0,1 M 1 mL
·         Larutan Al2(SO4)3 0,1 M 1 mL
·         Larutan NaCl 0,1 M 1 mL
·         Larutan Ca(OH)2 0,1 M 1 mL
·         Larutan NH4OH 0,1 M 1 mL
·         Larutan Na2CO3 0,1 M 1 mL
·         Larutan Vinegar (sari dari buah jeruk)
·         Kertas Lakmus merah dan biru
·         Larutan indikator MO 1 mL
·         Larutan indikator MM 1 mL
·         Larutan indikator PP 1 mL
·         Larutan indikator BTB 1 mL
·         Ekstrak Kembang sepatu 1 mL
·         Ekstrak Kol merah 1 mL
·         Ekstak Kunir 1 mL

3.      Titrasi Asam Basa
a.       Alat
·         Buret 1 buah
·         Corong 1 buah
·         Pipet gondok 25 mL 1 buah
·         Pipet gondok 5 mL 1 buah
·         Labu ukur 100 mL 1 buah
·         Pipet tetes 1 buah
·         Erlenmeyer 250 mL 3 buah
·         Gelas kimia 1 buah
·         Statif, Klem & Manec 1 set
·         Balon pipet 1 buah
·         Botol semprot 1 buah

b.      Bahan
·         Larutan standar NaOH 0,1 M 150 mL
·         Larutan asam cuka sampel 5 mL
·         Indikator phenolphthalein (PP) 9 tetes
·         Aquades
·         Kertas saring







D.    MATERIAL SAFETY DATA SHEET (MSDS)

1.      Asam Klorida (HCl)
Ø  Sifat Fisik dan Sifat Kimia
·         Kenampakan: bersih dan tak berwarna sampai kuning muda
·         Bau: kuat menyengat
·         Daya larut: 823 g/L air pada 32 F
·         Kepadatan: 1.16-1.19
·         pH: 1.1 (0.1 N sol)
·         % penguapan dalam volume @ 21 C (70 F). Tidak tersedia
·         Titik didih: 230 derajat F
·         Titik lebur: -101 derajat F
·         Uap (udara=1) 1.257
·         Tekanan uap: 160 mm Hg
·         Tingkat penguapan (butyl asetat = 1)
·         Rumus molekul : HCl
·         Berat molekul : 36.46

Ø  Identifikasi Bahaya
Berbahaya korosif, sensitif, menyebabkan luka bakar pada kulit dan mata, dapat menyebabkan gangguan pernafasan, dan efek samping yang berdampak buruk bagi saluran pencernaan.

Ø  Dampak kesehatan
·         Mata : menyebabkan luka permanent pada mata, uap/percikan dapat mengakibatkan iritasi dan luka baker yang parah. Kontak dengan cairan secara langsung mengakibatkan luka baker baik pada kulit maupun mata, menyebabkan rasa sakit dan peka terhadap cahaya
·         Kulit : dalam jumlah yang banyak dapat membahayakan bagi kulit, cairan bersifat korosif apabila kontak dengan kulit akan menyebabkan luka baker dan koreng (borok).
·         Saluran pembuangan :efek samping yang berbahaya dapat mengakibatkan kerusakan/gangguan pada system pencernaan, seperti sakit di sekitar perut, muntah-muntah, dan kemungkinan kematian, dapat menyebabkan kerusakan permanent pada jaringan espagus dan system pencernaan.
·         Pernafasan : menyebabkan iritasi parah pada saluran pernafasan atas, seperti batuk-batuk, luka pada tenggorokan, sesak nafas, dan kemungkinan koma. Menyebabkan penyakit paru-paru dan gangguan pernafasan.
·         Kronis : apabila sering terkena kulit dan terpapar terlalu lama dapat menyebabkan dermatitis, apabila terlalu sering berkenaan dengan bahan dapat menyebabkan erosi pada gigi.

Ø  Pertolongan Pertama
·         Mata : bilas mata dengan air mengalir krang lebih selama 15 menit, dan segera mencari pertolongan medis, jangan mengedipkan mata atau membiarkannya tertutup.
·         Kulit : segera mencari pertolongan medis, bilas daerah yang terkena dengan air yang banyak selama kurang lebih 15 menit, tanggalkan pakaian atau sepatu yang terkena oleh bahan atau terkontaminasi
·         Saluran pembuangan :jangan dimuntahkan, apabila korban dalam keadaan yang membahayakan/kritis, berikan 2-4 cangkir penuh susu atau air, dan segera mencari pertolongan medis.
·         Pernafasan : segera cari udara segar dan jauhkan dari sumber bahaya. jika tidak bernafas, berikan bantuan nafas (nafas buatan). Jika sesak nafas , berikan oksigen. Segera cari pertolongan medis.

Ø  Penanganan dan Penyimpanan
·         Penanganan : cuci tangan setelah menangani bahan. Tanggalkan pakaian yang diduga terkontaminasi dan cuci sebelum digunakan kembali. Cari tempat yang mempunyai sirkulasi udara yang memadai. Jangan sampai terkena kulit atau mata, jangan terhirup atau tertelan.
·         Penyimpanan : Jauhkan dari udara panas dan api. Jangan disimpan ditempat yang terkena sinar matahari langsung. Simpan di tempat yang sejuk, kering, dengan sirkulasi udara yang baik.


2.      Asam Sulfat (H2SO4)
Ø  Sifat Fisika dan Sifat Kimia:
·         Keadaan fisik dan penampilan: Cairan
·         Bau: berbau, namun memiliki bau tersedak ketika panas.
·         Rasa: rasa asam kuat
·         Berat Molekul: 98,08 g / mol
·         Warna: tak berwarna.
·         pH (1% soln / air): Asam.
·         Titik Didih: 270 ° C (518 ° F) - 340 deg. C terurai pada 340 deg. C
·         Melting Point: -35 ° C (-31 ° F) menjadi 10,36 deg. C (93%-100% kemurnian)
·         Spesifik Gravity: 1,84 (Air = 1)
·         Densitas Uap: 3.4 (Air = 1)
·         Properti Dispersi: lihat kelarutan dalam air.
·         Kelarutan: mudah larut dalam air dingin. Sulfat larut dalam air dengan pembebasan banyak panas. Larut dalam etil alkohol.

Ø  Penganan :
·         Kontak mata: periksa dan lepaskan jika ada lensa kontak. Dalam kasus terjadi kontak, segera siram mata dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit. Air dingin dapat digunakan. Dapatkan perawatan medis dengan segera.
·         Kontak Kulit : dalam kasus terjadi kontak, segera basuh kulit dengan banyak air sedikitnya selama 15 menit dengan mengeluarkan pakaian yang terkontaminasi dan sepatu. Tutupi kulit yang teriritasi dengan yg sesuatu melunakkan. Air dingin mungkin dapat digunakan pakaian.cuci sebelum digunakan kembali. benar-benar bersih sepatu sebelum digunakan kembali. Dapatkan perawatan medis dengan segera.
·         Kulit Serius : cuci dengan sabun desinfektan dan menutupi kulit terkontaminasi dengan krim anti-bakteri. Mencari medis segera
·         Inhalasi: jika terhirup, pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen. Dapatkan segera perhatian medis.
·         Serius Terhirup: evakuasi korban ke daerah yang aman secepatnya. Longgarkan pakaian yang ketat seperti kerah, dasi, ikat pinggang atau ikat pinggang. jika sulit bernapas, beri oksigen. Jika korban tidak bernafas, lakukan pernafasan dari mulut ke mulut.

Ø  Peringatan:
·         Ini mungkin berbahaya bagi orang yang memberikan bantuan lewat mulut ke mulut (resusitasi) bila bahan dihirup adalah racun, infeksi atau korosif. Cari bantuan medis segera.
·         Jangan mengusahakan muntah kecuali bila diarahkan berbuat demikian oleh personel medis. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada korban yang sadar. Longgarkan pakaian yang ketat seperti kerah, dasi, ikat pinggang atau ikat pinggang. Dapatkan bantuan medis jika gejala muncul.

3.      Natrium Klorida (NaCl)
Ø  Sifat Fisik dan Sifat Kimia
·         Keadaan fisik dan penampilan: Solid.
·         Bau: Tidak tersedia.
·         Rasa: Tidak tersedia.
·         Molekul Berat: Tidak berlaku.
·         Warna: Tidak tersedia.
·         pH (1% soln / air): Netral.
·         Titik didih: Tidak tersedia.
·         Melting Point: 801 ° C (1473,8 ° F) berdasarkan data untuk: Natrium klorida.
·         Suhu Kritis: Tidak tersedia.
·         Spesifik Gravity: Nilai hanya dikenal 2.16 (Air = 1) (Natrium klorida).
·         Tekanan Uap: Tidak berlaku.
·         Densitas Uap: Tidak tersedia.
·         Volatilitas: Tidak tersedia.
·         Bau Threshold: Tidak tersedia.
·         Air / Minyak Dist. Coeff:. Produk ini jauh lebih mudah larut dalam air.
·         Ionicity (dalam Air): Tidak tersedia.
·         Properti Dispersi: Lihat kelarutan dalam air, metanol.

Ø  Potensi Efek Kesehatan
·         Akut: berbahaya dalam kasus kontak kulit (iritan), kontak mata (iritan). Sedikit berbahaya
·         Efek Karsinogenik: Tidak tersedia.
·         Efek Mutagenik: Tidak tersedia.
·         Efek teratogenik: Tidak tersedia.

Ø  Pertolongan Pertama
·         Mata: periksa dan lepaskan lensa kontak. Segera basuh mata dengan air mengalir selama setidaknya 15 menit, dengan kelopak mata tetap terbuka . Air dingin dapat digunakan. Jangan menggunakan salep mata. Carilah perhatian medis.
·         Kulit: setelah kontak dengan kulit, segera cuci dengan air yang banyak. Lembut dan benar-benar mencuci kulit terkontaminasi dengan air mengalir dan sabun non-abrasif. Berhati-hatilah celah-celah, lipatan dan pangkal paha. Air dingin dapat digunakan. Tutupi kulit yang teriritasi . Jika terjadi iritasi, mencari pertolongan  medis. Jika kontak kulit seriu, maka cuci dengan sabun desinfektan dan menutupi kulit yang terkontaminasi dengan krim anti-bakteri. Carilah pertolongan medis.
·         Terhirup: biarkan korban untuk beristirahat di tempat yang berventilasi baik. Carilah perhatian medis segera.
·         Tertelan: jangan menginduksi muntah. Longgarkan pakaian yang ketat seperti kerah, dasi, ikat pinggang atau pinggang. Jika korban tidak bernapas, lakukan
§  mulut ke mulut resusitasi. Carilah perhatian medis segera.

Ø  Tindakan terhadap Tumpahan Kecil:
·         Gunakan alat yang tepat untuk menempatkan tumpah padat dalam wadah pembuangan limbah yang nyaman. Selesai membersihkan dengan menyebarkan air yang terkontaminasi permukaan dan membuang sesuai dengan persyaratan otoritas lokal dan regional.
·         Besar Tumpahan: gunakan sekop untuk menempatkan bahan ke dalam wadah pembuangan limbah yang nyaman.

Ø  Kewaspadaan:
Jangan menelan. Jangan menghirup debu. Kenakan pakaian pelindung yang sesuai Jika tertelan, segera dapatkan bantuan medis dan tunjukkan wadah atau label. Hindari kontak dengan kulit dan mata Jauhkan dari incompatibles seperti zat pengoksidasi, asam.

Ø  Perlindungan Pribadi
Gunakan  ventilasi pembuangan lokal, atau perangkat kendali teknik lain untuk menjaga kadar udara di bawah yang direkomendasikan eksposur batas. Jika operasi pengguna menghasilkan debu, asap atau kabut, gunakan ventilasi untuk menjaga paparan kontaminan udara di bawah batas pemaparan.

Ø  Perlindungan Pribadi:
Splash kacamata. Lab mantel. Debu respirator. Pastikan untuk menggunakan respirator yang disetujui / bersertifikat atau setara. Sarung tangan.

4.      Natrium Karbonat (Na2CO3)
Ø  Sifat Fisik dan Sifat Kimia
·         Bentuk: Solid
·         Penampilan: putih
·         Bau: tidak berbau
·         pH: 11,6 (solusi)
·         Tekanan Uap: Tidak tersedia.
·         Kepadatan uap: Tidak tersedia.
·         Tingkat Penguapan: Tidak tersedia.
·         Viskositas: Tidak tersedia.
·         Titik Didih: 400 derajat C
·         Pembekuan / lebur Point: 851 derajat C
·         Suhu swa-sulut/suhu penyulutan otomatis: Tidak tersedia.
·         Titik Nyala: Tidak tersedia.
·         Dekomposisi Suhu: 400 derajat C
·         NFPA Rating: kesehatan: 3; mudah terbakar: 0; Reaktivitas: 0
·         Kelarutan: Larut dalam air
·         Spesifik Gravity / Densitas: 1,55
·         Molecular Formula: Na2CO3
·         Molekul Berat: 105.9778

Ø  Tinjauan Bahaya
Penampilan: Putih. Peringatan! Berbahaya bila terhirup. Dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit dengan luka bakar. Dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan dan pencernaan.

Ø  Potensi Efek Kesehatan
·         Mata: Dapat menyebabkan cedera kornea. Kontak dengan mata dapat menyebabkan iritasi parah, mata dan luka bakar.
·         Kulit: Kontak dengan kulit menyebabkan iritasi dan luka bakar, terutama jika kulit basah atau lembab.
·         Tertelan: Dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan.
·         Inhalasi: Berbahaya jika terhirup. Dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dengan nyeri terbakar di hidung dan tenggorokan, batuk, mengi, sesak napas dan edema paru.
·         Kronis: inhalasi berkepanjangan atau berulang-ulang dapat menyebabkan mimisan, hidung tersumbat, erosi pada gigi, perforasi septum hidung, nyeri dada dan bronkitis.
                                     
Ø  Tindakan Pertolongan Pertama:
·         Mata: Segera siram mata dengan banyak air sedikitnya selama 15 menit, sesekali   mengangkat kelopak mata atas dan bawah. Dapatkan bantuan medis dengan segera.
·         Kulit: Dapatkan bantuan medis. Siram kulit dengan banyak air dan sabun setidaknya selama 15 menit saat mengeluarkan pakaian yang terkontaminasi dan sepatu. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali.
·         Tertelan: Jangan memancing muntah. Jika korban sadar dan waspada, beri 2-4 cupfuls susu atau air. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada orang yang tidak sadar. Dapatkan bantuan medis dengan segera.
·         Inhalasi: Hapus dari paparan udara segar segera. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen.Dapatkan bantuan medis jika batuk atau gejala muncul.

Ø  Tindakan pencegahan kebakaran
·         Informasi Umum: memakai peralatan pernapasan mandiri dalam tekanan-demand, MSHA / NIOSH (disetujui atau setara), dan alat pelindung penuh. Bahan tidak akan terbakar. Pakailah pakaian pelindung untuk mencegah kontak dengan kulit dan mata.Pakailah alat pernafasan mandiri (SCBA) untuk mencegah kontak dengan produk dekomposisi termal. Limpasan dari kontrol api atau air pengenceran dapat menyebabkan polusi.
·         Media Pemadam: substansi adalah noncombustible, penggunaan agen yang paling tepat untuk memadamkan api di sekitarnya.Gunakan kabut air, kimia kering, karbon dioksida atau busa alkohol jenis

Ø  Penanganan dan Penyimpanan
·         Penanganan: Cuci sampai bersih setelah memegang. Hubungi dokter dan cuci sebelum digunakan kembali. Minimalkan debu dan akumulasi. Jangan sampai mata, kulit, atau pakaian. Simpan wadah tertutup rapat. Hindari konsumsi dan inhalasi.
·         Penyimpanan: Simpan dalam wadah tertutup rapat. Simpan di, daerah sejuk dan kering, berventilasi baik jauh dari zat-zat yang tidak kompatibel.




E.     CARA KERJA

1.      Penentuan Trayek pH Indikator Asam Basa
 


Cara membuat ekstrak tumbuh-tumbuhan


2.      Penentuan pH Larutan







3.      Titrasi Asam Basa


F.     DATA PENGAMATAN

1.      Penentuan Trayek pH Indikator Asam Basa
Larutan pH
Perubahan Warna Larutan


MO
MM
PP
BTB
Kemb. Sepatu
Kol Merah
Kunir
L merah
L Biru
1
Merah Muda
Merah Muda
Tidak Berwarna
Kuning
Merah Muda
Merah Muda
Kuning
M
M
2
Merah Muda
Merah Muda
Tidak Berwarna
Kuning
Merah Muda
Merah Muda
Kuning
M
M
3
Merah Muda
Merah Muda
Tidak Berwarna
Kuning
Merah Lebih Muda
Merah Muda
Kuning
M
M
4
Jingga
Merah Muda
Tidak Berwarna
Kuning
Merah Muda Seulas
 Pink Seulas
Kuning
M
M
5
Kuning
Merah Muda
Tidak Berwarna
Kuning
Tidak Berwarna
Tidak Berwarna
Kuning
M
M
6
Kuning
Jingga
Tidak Berwarna
Hijau Muda
Tidak Berwarna
Tidak Berwarna
Kuning
M
M
7
Kuning
Kuning
Tidak Berwarna
Hijau Tua
Tidak Berwarna
Tidak Berwarna
Kuning
M
B
8
Kuning
Kuning
Tidak Berwarna
Biru
Tidak Berwarna
Hijau Muda
Jingga
B
B
9
Kuning
Kuning
Tidak Berwarna
Biru
Merah Muda Seulas
Hijau
Merah Bata
B
B
10
Kuning
Kuning
Ungu
Biru
Merah Seulas
Hijau
Coklat
B
B
11
Kuning
Kuning
Ungu
Biru
Biru
Hijau Muda
Coklat
B
B
12
Kuning
Kuning
Ungu
Biru
Biru Kehijauan
Hijau Muda
Coklat
B
B
Trayek
3 - 6
8 - 10
6 - 7
4 - 7
3 - 6
6 - 8
6 - 8
-
-

2.      Penentuan pH Larutan
Nama Larutan
Perubahan Warna Larutan dan Lakmus
pH Larutan
MO
PP
MM
BTB
Kembang sepatu
Kol merah
Kunir
Lakmus
M
B
HCl 0,1 M
Merah pekat
Tidak berwarna
Pink 
Jingga
Jingga pekat
Jingga pekat
Jingga 
M
M
Asam < 3,1
H2SO4
 0,1 M
Merah pekat
Tidak berwarna
Pink
Jingga
 Jingga pekat
Jingga pekat
Jingga muda
M
M
Asam < 3,1
Al2(SO4)3 0,1 M
Merah
Tidak berwarna
Pink pekat
Kuning kunyit
Ungu tua
Ungu
Jingga
M
M
Asam 3 - 4
NaCl
 0,1 M
 Jingga
Tidak berwarna
Jingga seulas
Jingga
Ungu muda
Ungu
Jingga
M
M
Netral 6 – 7
Ca(OH)2 0,1 M
 Jingga seulas
Ungu muda
Kuning
Biru tua
Biru kehitaman
Hijau tosca
Merah kecoklatan
B
B
Basa > 10
NH4OH 0,1 M
Jingga seulas
Ungu muda
Kuning muda
 Biru tua
Abu-abu kehitaman
Hijau pudar
Merah bata
B
B
Basa > 10
Na2CO3 0,1 M
Kuning
Ungu pekat
Kuning seulas
 Biru tua
Biru tua
Hijau pudar
Merah bata
B
B
Basa > 10
Vinegar
Jingga pekat
Tidak berwarna
Merah pekat
Jingga pekat
Jingga pudar
Jingga pudar
 Jingga tua
M
M
Asam < 4

3.      Titrasi Asam Basa
No
Warna Larutan + PP
Warna Larutan + PP + NaOH
Volume
Sebelum
Sesudah
Sebelum
Sesudah
Cuka
NaOH
1
Tidak berwarna
Tidak berwarna
Tidak berwarna
Pink seulas
31 ml
25 ml
2
Tidak berwarna
Tidak berwarna
Tidak berwarna
Pink seulas
32 ml
25 ml
3
Tidak berwarna
Tidak berwarna
Tidak berwarna
Pink seulas
33 ml
25 ml

G.    PERHITUNGAN

1.      Penentuan Trayek pH Indikator Asam Basa
Trayek warna indikator MO                                 : merah muda - kuning
Trayek warna indikator PP                                   : tidak berwarna – ungu
Trayek warna indikator MM                                 : merah muda - kuning
Trayek warna indikator BTB                                : kuning - biru
Trayek warna indikator kembang sepatu              : merah – biru gelap
Trayek warna indikator kol merah                        : merah muda – hijau muda
Trayek warna indikator kunir                                : kuning - coklat

2.      Penentuan Ph larutan
Menghitung pH larutan yang digunakan :
1.     

·         pH HCl = - log [H]
= - log []
= 1 – log 10
= 1
 
Larutan HCl 0,1 M :
HCl (aq)                  H(aq) + Cl(aq) 
[H⁺] = valensi . M
         = 1 . 0,1
        = M

2.     

·         pH H2SO4 = - log [H]
   = - log []
    = 1 – log 2
    = 1 – 0,3
    = 0,7
 
Larutan H2SO4 0,1 M
H2SO4 (aq)                   2 H(aq) +  (aq)
[H⁺] = valensi . M
         = 2 . 0,1
        = M

3.      Larutan Al2(SO4)3 0,1 M
Al2(SO4)3 (aq)                            +   (aq)   (terhidrolisis)
 + 6H2O                 2Al(OH)3 + 6 H 

·         pH Al2(SO4)3 = - log [H]
          = - log []
          = 4 – log 6,32
          = 4 – 0,8
          = 3,2
 
Kb Al(OH)3  =
 [H⁺] =
         =
        =  M

4.      Larutan NaCl 0,1 M
HCl + NaOH                    NaCl + H2O
(asam kuat) + (basa kuat)                    (garam) + (air) , garam tidak terhidrolisis dan bersifat netral. Mengalami ionisasi sempurna Na dari asam kuat dan Cl dari basa kuat, pH = 7.

5.     

·         pH Ca(OH)2 = pKW - pOH
       = 14 – 0,7
        =13,3
 
Larutan Ca(OH)2 0,1 M
Ca(OH)2                      + 2OH
[OH⁻] = valensi . M
            = 2 . 0,1
           = M
pOH = -log [OH⁻]
         = - log  
         = 1 – log 2
         = 1 -0,3
         = 0,7

6.      Larutan NH4OH 0,1 M

·         pH NH4OH = pKW - pOH
      = 14 – 2,87
      =11,13
 
NH4OH                 NH4 + OH
 [OH⁻] =
            =
           =
pOH = - log  
         = 2,87

7.      Larutan Na2CO3 0,1 M
Na2CO3                      2Na +    (terhidrolisis)
 + H2O                    H2CO3⁻ + OH⁻

·         pH NH4OH = pKW - pOH
      = 14 – 3,2
      = 9,68
 
[H⁺] =
         =
        =  M
pOH = - log  
         = 4,32

3.       Titrasi Asam Basa
Menentukan konsentrasi asam cuka.

Diketahui:
V1 CH3COOH:  25 ml            V1 NaOH:  31 ml
V2 CH3COOH:  25 ml            V2 NaOH:  32 ml
V3 CH3COOH:  25 ml            V3 NaOH:  33 ml

Ditanya: M HCl?

Jawab:
§  V CH3COOH = 25 ml
§  V NaOH :  = 32
§  Va x Ma x a = Vb x Mb x b
Ma  =
Ma  =  = 0,128 M
            Jadi, konsentrasi asam cuka adalah 0,128 M.

H.    ANALISIS DATA

1.      Penentuan Trayek pH Indikator Asam Basa
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan trayek pH dengan berbagai indikator asam basa dan indikator yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan . percobaan ini  menggunakan beberapa indikator sintesis seperti Metil Orange (MO), Metil Merah (MM), Phenolphtalein (PP), dan Bromtimol Biru (BTB). Selain itu, digunakan juga indikator tumbuhan seperti kembang sepatu, kol merah, dan kunir.
Percobaan dilakukan dengan menggunakan larutan ph 1 sampai 12 yang diteteskan dengan indikator asam basa sebanyak 1-2 tetes untuk asing-masing indikator. Penentuan trayek pH indikator  dilakukan dengan melihat perubahan warna dan perbedaan warna pada masing-masing pH 1-12. Untuk masing-masing indikator didapatkan hasil dari percobaan  yang telah dilakukan sebagai berikut:
·         Metil Orange (MO)
Pada percobaan ini larutan pH 1 sampai larutan pH 3 berubah menjadi warna merah muda, pH 4 menjadi warna jingga, pH 5 sampai pH 12 berwarna kuning. Hal ini menunjukkan trayek pH indikator MO 3 – 5 dengan warna merah muda – kuning. Hasil ini sesuai dengan literarur bahwa indikator MO memiliki trayek pH 3,2 – 4,4 dengan warna merah-kuning, jika larutan ber pH 3,2 akan berwarna merah dan larutan ber pH 4,4 akan berwarna 4,4 dan diantaranya aakan berwarna jingga. Dalam percobaan sudah terbukti karena larutan pH 1 - 3 yang berada pada pH kurang dari 3,2 akan berwarna merah muda/merah, dan untuk pH diatas 4,4 akan berwarna kuning/jingga.

·         Metil Merah (MM)
Pada percobaan ini larutan dengan pH 1-5 berwarna merah muda setelah ditetesi indikator MM, pH 6 berwarna jingga, dan pH 7-12 berwarna kuning. Hasil ini menunjukkan trayek pH dengan indikator MM adalah 5 – 7 dengan warna merah muda-kuning. Pada literatur, trayek pH nya adalah 4,4-6,2. Dimana pH di bawah 4,4 akan berwarna merah dan pH di atas 6,2 akan berwarna kuning. Berdasarkan literature hanya terdpaat sedikit perbedaan, hal ini dikarenakan praktikan tidak teliti saat menerjemahkan warna dan pencucian alat yang kurang bersih.

·         Phenolpthalein (PP)
Dalam percobaan, didapatkan larutan pH 1 – 9 warna tetap atau tidak berwarna ketika ditetesi indikator PP, sedangkan larutan pH 10 – 12 berubah warna dari tidak berwarna menjadi ungu. Menurut literatur, trayek pH larutan indikator PP adalah 8,0 – 9,6 dimana jika larutan dibawah 8,0 akan menghasilkan larutan tidak berwarna dan jika larutan diatas 9,6 akan menghasilkan warna ungu. Jika dibandingkan dengan literatur, percobaan kami sudah sesuai karena larutan yg ber- pH 1-9 tidak berwarna, sedangkan larutan diatas 9,6 yakni ber- pH 10 – 12 berwarna ungu. Maka percobaan sudah terbukti dengan benar sesuai dengan literatur.
·         Indikator BTB (bromtimol biru)
Pada percobaan, larutan ber-pH 1 – 5 berwarna kuning, larutan ber-pH 6 - 7 berwarna hijau dan larutan ber-pH 8 – 12 berwarna biru. Berdasarkan literatur, larutan indikator BTB memiliki trayek pH 6 – 7,6 dengan larutan berwarna kuning jika dibawah 6 dan akan berwarna biru jika diatas 7,6. Jika dibandingkan dengan hasil percobaan, maka hasilnya sesuai dengan literatur dimana larutan ber-pH dibawah 6 yakni 1-5 berwarna kuning dan larutan ber-pH 6-7 akan berwarna diantara kuning, biru ataupun campurannya yakni hijau, dan larutan ber-pH diatas 7,6 yakni larutan ber-pH 8-12 yakni berwarna biru.
·         Indikator alami kembang sepatu
Selain indikator buatan, indikator alami pun digunakan dalam percobaan ini. Ekstrak bahan alam dibuat dengan cara ditumbuk, lalu diberi alkohol ± 10 tetes dan diaduk kemudian disaring dengan kertas saring + bantuan corong. Filtratnya digunakan sebagai indikator. Pemberian alkohol dalam pembuatan ekstrak dimaksudkan agar pigmen-pigmen warna yang ada pada bahan alam dapat larut sempurna.
Pada percobaan, larutan ber-pH 1 – 3 berwarna merah, larutan ber-pH 4 – 6 berwarna merah muda dan larutan ber-pH 7 berwarna merah gelap, larutan ber-pH 8 berwarna hijau seulas, larutan ber-pH 9 berwarna merah muda, larutan ber-pH 10 berwarna merah gelap dan larutan ber-pH 11 – 12 berwarna biru gelap. Berdasarkan literatur trayek pH indikator alami kembang sepatu berkisar antara 3 – 9, dengan warna merah pada keadaan asam dan warna hijau pada keadaan basa. Jika dibandingkan dengan literatur, hasil percobaan yang kami dapat tidak sesuai karena pada pH 9 dan 10 dimana larutan bersuasana basa seharusnya berwarna hijau tetapi hasil kami menunjukkan warna merah. Kesalahan ini bisa saja terjadi dikarenakan ketidak telitian praktikan dalam melihat warna, ketidak telitian praktikan dalam meneteskan larutan indikator atau pencucian wadah yang belum bersih dan kestreilan bahan yang digunakan.
·         Indikator alami kol  merah
Indikator asam basa dari ekstraksi kol merah akan berubah warna menjadi merah muda dalam suasana asam, berubah menjadi hijau pada suasana basa, dan tidak berwarna pada larutan netral. Pada percobaan, larutan ber-pH 1 – 3 berwarna merah muda, larutan ber-pH 4 berwarna merah muda seulas, larutan ber-pH 5 -7 tidak berwarna, laruta ber-pH 8 – 12 berwarna hijau. Maka jika dibandingkan dengan literatur, hasil yang kami dapat sesuai karena saat larutan ber-pH 1-3 dimana larutan dalam keadaan asam berwarna merah muda lalu saat keadaan netral yakni pH 7 larutan tidak berwarna dan saat keadaan basa larutan berwarna hijau. Maka dapat disimpulkan trayek pH indikator kol merah dari hasil pengamatan yakni 3 – 8 dengan perubahan warna merah muda – hijau.

·         Indikator alami kunyit
Indikator asam-basa dari ekstraksi kunyit akan memberi warna kuning tua pada suasana asam, warna cokelat pada suasana basa, dan warna kuning muda pada suasana netral.. Pada percobaan tersebut, didapatkan larutan ber-pH 1 – 7 berwarna kuning, larutan ber-pH 8 berwarna jingga, larutan ber-pH 9 berwarna merah bata dan larutan ber-pH 10 – 12 berwarna coklat. Jika dibandingkan dengan literatur, maka hasil yang kami dapat sesuai dimana saat keadaan asam larutan berwarna kuning dan saat keadaan basa larutan berwarna coklat.



2.      Penentuan pH Larutan
Praktikum ini bertujuan untuk memperkirakan pH larutan dengan menggunakan beberapa indikator penujuk sifat asam dan basa. Pada percobaan ini menggunakan 8 buah larutan yaitu HCl 0,1 M, H2SO4 0,1 M, Al2(SO4)3 0,1 M, NaCl 0,1 M, Ca(OH)2 0,1 M, NH4OH 0,1 M, Na2CO3 0,1 M  dan vinegar. Masing-masing larutan akan ditempatkan di lubang plat tetes kemudian diberikan tetesan indikator MM. Diulangi hal tersebut dengan mengganti indikator MM dengan ke-6 indikator lainnya, yaitu MO, BTB, PP, kembang sepatu, kembang kol dan kunyit.
Berikut adalah trayek perubahan warna indikator :
·         Metil orange (MO), merah – kuning dengan trayek pH 3,1 – 4,4
·         Metil merah (MM), merah – kuning dengan trayek pH 4,2 – 6,2
·         Phenolphtalein (PP), tidak berwarna – ungu dengan trayek pH 8 – 10
·         Bromtimol biru (BTB), kuning – biru dengan trayek pH 6 – 7
Berdasarkan trayek perubahan warna tersebut, maka pH larutan dapat diperkirakan.
1.      HCl 0,1 M
Hasil percobaan HCl 0,1 M saat ditetesi MO adalah merah pekat berarti pH-nya dibawah 3,1. Ditetesi PP tidak berwarna, berarti pH-nya dibawah 8. Ditetesi MM menjadi merah muda berarti pH-nya dibawah 4,2 lalu ketika ditetesi BTB warnanya menjadi jingga berarti pH-nya, berarti pH-nya dibawah 6. Pada indikator alami kembang sepatu dan kol merah berubah menjadi jingga pekat yang berarti larutannya adalah asam. Jika pada kunyit, menunjukkan bahwa HCl 0,1 M adalah larutan asam karena larutan berwarna kuning. Selanjutnya, ketika dimasukkan lakmus merah tidak ada perubahan (tetap merah) dan dimasukkan ke lakmus biru terjadi perubahan warna kertas kertas lakmus yang awalnya biru menjadi merah. Semua itu membuktikan bahwa HCl adalah larutan asam. Berdasarkan perubahan warna maka HCl 0,1 M pasti memiliki pH dibawah 3,1.

2.    H2SO4 0,1 M
Hasil percobaan H2SO4 diberi MO menjadi merah pekat maka pH kurang dari 3,1, diberi MM hasilnya merah muda (pink) berarti pH kurang dari 4,2, diberi PP hasilnya tidak berwarna berarti pH dibawah 8, diberi BTB hasilnya berwarna jingga berarti pH dibawah 6. Pada indikator alami kembang sepatu dan kol merah larutannya berubah menjadi jingga pekat, yang berarti larutannya bersifat asam. Ketika ditetesi kunyit berubah menjadi jingga muda, maka larutannya bersifat asam. Lakmus merah dan biru pun keduanya menjadi merah yang menandakan itu adalah larutan asam dengan pH pasti dibawah 3,1. Hal ini sesuai dengan perhitungan, bahwa pH H2SO4 adalah 0,7 (< 3,1).

3.      Al2(SO4)3 0,1 M
Hasil percobaan Al2(SO4)3 diberi MO menjadi merah maka pH < 3,1, diberi MM menjadi merah muda pekat maka pH < 4,2, diberi PP menjadi tidak berwarna maka pH < 8, diberi BTB menjadi kuning kunyit maka pH < 6. Ketika diberi indikator kembang sepatu menjadi ungu tua bukan merah, hal ini menunjukkan bahwa pH diatas 3. Ketika diberi indikator kol merah menjadi ungu dimana ungu masih berada diantara merah dan hijau maka larutan ber-pH diatas 3. Lalu ketika ditetesi indikator kunyit berubah menjadi jingga maka larutan bersifat asam. Untuk kertas lakmus merah dan biru keduanya menjadi merah menandakan sifat larutan asam. Dapat disimpulkan bahwa larutan Al2(SO4)3 adalah larutan asam dengan pH 3 – 4. Berdasarkan perhitungan, pH Al2(SO4)3 adalah 3,2, maka hasil perhitungan dan hasil percobaan sesuai.

4.      NaCl 0,1 M
Ketika diberi MO, larutan berubah menjadi jingga, hal ini menyebabkan pH NaCl pasti > 4,4, begitu pula ketika ditetesi larutan MM, dimana larutan berubah menjadi warna jingga seulas maka pH NaCl > 6,2. Ketika diberi PP larutan menjadi tidak berwarna berarti pH < 8, lalu ketika diberi BTB larutan menjadi jingga berarti larutan > 6, tetapi hal ini adalah kekeliruan karena NaCl adalah garam maka pH tidak mungkin > 6 karena pH-nya = 7. Pada literatur, pH NaCl adalah 7. Hal ini sesuai dengan percobaan bahwa berdasarkan perubahan warna, pH NaCl berada diantara 6,2 – 8. NaCl merupakan garam netral karena terbentuk dari HCl (asam kuat) dan NaOH (basa kuat). Lakmus meras tetap merah dan lakmus biru tetap biru, karena NaCl adalah garam netral untuk ketiga intikator alami warna larutan NaCl-nya hanya berubah sedikit mengikuti warna asli ekstraknya. Itu menandakan pula bahwa NaCl bersifat netral.

5.      Ca(OH)2 0,1 M
Ketika diberi tetesan MO, maka akan berwarna jingga seulas maka pH diatas 4,4, ketika diberi tetesan MM larutannyaakan berubah warna menjadi kuning maka pH > 6,2, saat diberi PP larutan ungu muda maka pH > 10, lalu saat diberi BTB berubah menjadi biru tua maka pH > 7. Pada pemberian indikator alami kembang sepatu dan kol merah larutan berubah warna menjadi biru kehitaman dan hijau tosca dimana warna larutan berubah menjadi sama-sama gelap, hal tersebut menandakan bahwa larutan bersifat basa. Ketika ditetesi ekstrak kunyit pun laruan berubah menjadi warna merah coklatan yang menunjukkan bahwa larutan bersifat basa. Lakmus biru tetap berwarna biru sedangkan lakmus merah menjadi warna biru, maka dapat disimpulkan bahwa Ca(OH)2 adalah basa dengan pH > 10. Hal ini sesuai dengan hasil perhitungan, dimana Ca(OH)2 ber-pH 13,3.

6.      NH4OH 0,1 M
Dalam percobaan ini, diberi indikator MO larutannya berubah warna menjadi jingga seulas yang menandakan bahwa pH < 4,4, ketika diberi indikator MM warna berubah menjadi kuning muda yang berarti pH berada > 6,2, diberi indikator PP warna berubah menjadi ungu muda yang berarti pH berada > 10, lalu ketika diberi indikator BTB, larutan berubah warna menjadi biru tua maka pH nya > 7.
Indikator alami pun menunjukkan bahwa NH4OH adalah basa karena larutannya menjadi abu-abu kehitaman ketika ditambahkan kembang sepatu, lalu menjadi warna hijau pudar ketika diberi ekstrak kol merah dan menjadi merah bata ketika diberi ekstrak kunyit. Kertas lakmus biru tetap menjadi biru dan kertas lakmus merah berubah menjadi biru. Hal ini sesuai dengan perhitungan, pH NH4OH adalah 11,13 dan pasti bersifat basa.

7.      Na2CO3 0,1 M
Pada larutan Na2CO3, hal yang sama terjadi yaitu perubahan-perubahan warna seperti NH4OH dan Ca(OH)2. Ketika diberi MO berubah warna menjadi kuning maka pH > 4,4, diberi MM menjadi kuning seulas maka pH > 6,2, ketika diberi PP menjadi ungu pekat maka pH > 10 dan diberi BTB berubah menjadi jingga pekat maka pH > 7. Diberi indikator alami kembang sepatu dan kol merah warna berubah menjadi biru tua dan hijau pudar lalu ketika diberi ekstrak kunyit warna menjadi merha bata. Hal ini menandakan bahwa larutan tersebut bersifat basa.

8.      Vinegar
Vinegar atau ekstrak jeruk peras dibuat dari perasan murni jeruk. Ketika vinegar diberi indikator MO warnanya menjadi jingga pekat (pH 3,1 – 4,4), ketika diberi indikator MM warna berubah menjadi merah pekat (pH < 4,2), ketika diberi indikator PP warnanya menjadi tidak berwarna (pH < 8), ketika diberi indikator BTB warnanya menjadi jingga pekat (pH < 6). Kembang sepatu dan kol merah menjadi warna jingga pudar menunjukkan sifat larutan adalah asam, serta ditetesi kunyit warna berubah menjadi jingga tua yang menunjukkan sifat larutan asam. Dapat disimpulkan bahwa vinegar jeruk memiliki pH diantara 3,1 – 4,4 yang berarti sifat larutan asam. Trayek MO = merah – kuning (3,1 -4,4), dan vinegar berada ditengah-tengah karena berwarna jingga.

3.      Titrasi Asam Basa
Titrasi adalah suatu proses dalam analisis volumetrik dimana suatu titran atau larutan standar (yang telah diketahui konsentrasinya) diteteskan melalui buret ke larutan lain yang dapat bereaksi dengannya (belum diketahui konsentrasinya) hingga tercapai titik ekuivalen atau titik akhir. Untuk mengetahui saat tercapainya titik ekuivalen suatu proses titrasi, digunakan sautu zat penunjuk yang dalam larutan mempunyai warna yang berbeda, tergantung dari bersama ion H+ yang terdapat dalam larutan. Zat penujuk tersebut dinamakan indikator asam basa.
Pada percobaan ini bertujuan untuk menentukan banyaknya konsentrasi larutan asam cuka, lalu titrasi ini dilakukan dengan menggunakan 25 ml CH3COOH (titrat) dan NaOH 0,1M (titran). Percobaan titrasi ini dilakukan dengaan sebanyak 3 kali untuk mendapatkan hasil yang tepat (perbedaannya kecil) dengan mencari rata-rata dari ketiga percobaan tersebut. Larutan CH3COOH 25 ml hasil pengenceran dengan labu ukur tadi, dimasukkan ke dalam tabung erlenmenyer dan diteteskan indikator phenolpthalein (PP) sebanyak 3 tetes. Kemudian di teteskan sedikit demi sedikit NaOH 0,1 M kedalam tabung erlenmenyer yang berisi CH3COOH tadi.
Normalitas NaOH setelah dititrasi dapat dicari dengan rumus: Va x Ma x a = Vb x Mb x b     dan reaksi yang terjadi adalah :    NaOH (aq) + CH3COOH (aq)            CH3COONa + H20
Indikator PP tidak menyebabkan warna karena indikator PP adalah indikator basa dengan pH antara 8,3 – 10. Perubahan warna yang terjadi pada larutan CH3COOH dari berwarna menjadi pink seulas. Perubahan warna tersebut terjadi disat NaOH sedikit demi sedikit masuk ke dlam larutan CH3COOH menggunakan buret. Pada larutan CH3COOHmenjadi tanda bahwa telah terjadi kesetimbangan atau titik ekuivalen  dalam proses titrasi. Perubahan warna tidak terjadi secara drastis, tetapi secara perlahan sesuai dengan terjadinya perubahan pH larutan.
Indikator PP digunakan dalam titrasi asam basa karena indikator PP memiliki perubahan warna yang lebih tajam dibandingkan dengan indikator-indikator lain. Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, didapatkan perhitungan konsentrasi CH3COOH adalah 0,128 M.

I.       KESIMPULAN
1.      Trayek pH Indikator Asam Basa yang didapatkan sebagai berikut:
a.       Trayek perubahan warna indikator MO adalah merah muda – kuning
b.      Trayek perubahan warna indikator MM adalah merah muda – kuning
c.       Trayek perubahan warna indikator PP adalah tidak berwarna - ungu
d.      Trayek perubahan warna indikator BTB adalah kuning - biru
e.       Trayek perubahan warna indikator kembang sepatu adalah merah – biru gelap
f.       Trayek perubahan warna indikator kol merah adalah merah muda – hijau muda
g.      Trayek perubahan warna kunyit adalah kuning - coklat

2.      Percobaan 2 telah membuktikan bahwa HCl, H2SO4, dan Al2(SO4)3 adalah larutan asam Sementara Ca(OH)2, NH4OH, Na2CO3 adalah larutan basa. (sesuai juga dengan perhitungan)
a.       pH HCl yang digunakan adalah 1
b.      pH H2SO4 yang digunakan adalah 6,7
c.       pH Al2(SO4)3 yang digunakan adalah 3,2
d.      pH Ca(OH)2 yang digunakan adalah 13,3
e.       pH NH4OH yang digunakan adalah 11,13
f.       pH Na2CO3 yang digunakan adalah 9,68
3.      Persamaan reaksi pada titrasi asam basa adalah NaOH (aq) + CH3COOH (aq)            CH3COONa + H20
4.      Volume CH3COOH yang terpakai pada titrasi asam basa:
§  Percobaan 1 = 31 ml
§  Percobaan 2 = 32 ml
§  Percobaan 3 = 33 ml
§  Rata-rata Volume CH3COOH = 32 ml
5.      Konsentrasi akhir CH3COOH yang telah dititrasikan adalah 0,128 M.

J.      DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Niskia Tupamalu. 2001. Stoikiometri Energi Kimia. Bandung : Citra Aditya Bakti
Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi 3 Jilid 1. Jakarta
Erlangga.
Lestari, Puji. 2016.  Jurnal Kertas Indikator Asam Basa. Jakarta: MTSN Giriloyo
Sidharta, Aref. 2008. Model Pembelajaran Asam-Basa Berbasis Inkuaris Laboratorium.
Bandung: P4TKIPA
Sudarto, Unggul. 2008. Analisis Kimia Dasar. Yogyakarta : UNY

K.    LAMPIRAN
1.      Penentuan Trayek pH Indikator Asam Basa
Indikator
Perubahan Warna pada pH Asam
Perubahan Warna pada pH Basa
Kembang Sepatu


Kol Merah


Kunyit


Metil Jingga


Metil Merah


Bromtimol
Biru

Phenolpthalein



2.      Penentuan pH Larutan
     

3.      Titrasi Asam Basa
Hasil Titrasi
Keterangan




Perubahan warna menjadi pink seulas



Komentar

Postingan populer dari blog ini